
UP IN THE AIR merupakan sebuah film cerdas yang menggambarkan dengan bagus sekali persoalan pilihan hidup yang didasarkan pada bagaimana seorang manusia (Ryan Bingham) memandang nilai hubungan antar manusia (value of human connection). Kenapa Ryan Bingham enggan menjalin hubungan mendalam dengan manusia lain? Karena dalam pandanngannya, tidak ada timbal balik yang setimpal menurut ukurannya ketika berhubungan dengan manusia lain. Jadi, bukan sesuatu yang aneh ketika dia lebih berkomitmen kepada institusi tempat dia mendapatkan segala fasilitas dan kenyamanan duniawi. Sikap Ryan Bingham ini tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan para “pedagang’ yang sukses meracuni otak manusia dengan gaya hidup konsumtif. Mereka dengan gencarnya membentuk pencitraan diri lewat berbagai trik dagang. Bagaimana mereka mengedepankan gaya dibandingkan makna. Ketika Ryan Bingham dan Alex (Vera Farmiga) membandingkan kartu-kartu mereka, menjadi penggambaran yang amat nyinyir soal hal ini. Belum lagi soal tujuan yang ingin dicapai oleh Ryan yang sangat absurd. Meaningless. Ryan (dan kita) terperangkap dalam dunia yang menghargai manusia pada pencapaian kuantitatif. Kebanggaan yang semu.
Ryan Bingham bukannya tidak ingin beralih haluan. Ketika dia sudah memutuskan untuk menjalin hubungan mendalam dengan manusia lain (Alex), dia mendapati sebuah kenyataan pahit yang (kembali) membuatnya enggan menjalin hubungan mendalam dengan manusia lain. Ryan Bingham lebih memilih berkomitmen pada institusi meskipun sadar suatu saat kesetiaannya bakal dikhianati, lewat penghentian kerja. Suatu ironi memang karena Ryan Bingham mempunyai tugas utama menyampaikan kabar buruk buat para pekerja. Namun, paling tidak Ryan telah mempersiapkan diri menghadapi “penyingkiran”. Berbeda ketika menjalin hubungan dengan manusia lain, kita tidak pernah tahu kapan akan mengalami patah hati. Pribadi seperti Ryan, meski pandai berimprovisasi dalam pekerjaannya, tidak menyukai kejutan.
Banyak ironi yang dihadirkan dalam Up in the Air. Pada awalnya, Jason Reitman menggiring persepsi penonton kalau tak ada yang lebih berharga dari pada keluarga, menjelang akhir persepsi tersebut dijungkirbalikkan dengan status Alex yang sebenarnya. Sebuah pengkhianatan yang menyakitkan. Tidak hanya bagi Ryan, tetapi juga bagi penonton. Aksi sedu sedan dari Natalie Keener (Anna Kendrick) ketika diputus cowoknya lewat pesan text sungguh sangat ironis, mengingat dia yang memperkenalkan cara efektif dan efisien memecat pegawai secara online. Ketika Ryan terobsesi dengan pencapaian jarak dan sering bepergian, saudara perempuannya cukup puas dengan menitipkan replica demi sebuah pose palsu. Dan betapa ironisnya ketika Ryan berkhotbah soal komitmen pada calon suami adiknya. Ironi terbesar adalah ketika kita sebagai penonton tidak bisa sepenuhnya menghakimi Ryan sebagai manusia tk punya hati, namun justru rasa iba yang muncul karena Ryan merupakan sosok yang patut dikasihani. Dia seperti terjebak dalam pola hidup yang membuatnya tidak bisa terikat dengan manusia lain. Mengambang layaknya udara. Rasa iba ini makin kuat berkat penampilan George Clooney yang memikat. Rasanya penampilannya sebagai Ryan Bingham merupakan salah satu penampilan terbaiknya. Agak stereotype memang, namun entah mengapa kali ini efeknya terasa sangat kuat.
Bagi Waltz, Up in the Air mencoba mengangkat persoalan komitmen, kepercayaan, kesetiaan dan kejujuran ditengah dunia dimana konsumerisme dan materialisme hadir mengepung disemua lini. Hal ini didukung dengan perkembangan teknologi komunikasi yang merevolusi cara-cara berkomunikasi. Manusia berinteraksi tanpa perlu terhubung secara emosi (bingung tho?). KOMITMEN. Kata ini tampaknya menjadi momok menakutkan bagi manusia yang hidup di era dimana sangat mendewakan eksistensi. Komitmen telah mengalami perubahan wujud dan pemaknaan. Kini komitmen manusia lebih sering diarahkan pada dedikasi pada pekerjaan dimana efisiensi dan mobilitas (karena moving is living) menjadi sebuah keharusan. Semakin efisien dan semakin kamu cepat bergerak, maka kinerja kamu pantas diapresiasi dan akan membuat pemilik modal tersenyum lebar karena prinsip ekonomi bisa dijalankan dengan baik. Itulah yang namanya komitmen. Orang menikah dengan pekerjaan dan status.
Karena dituntut untuk selalu efisien dan bergerak cepat, kamu harus meminimalisir hambatan/beban yang bisa memperlambat kinerja serta selalu berinovasi mencari cara untuk menekan biaya. Efisiensi dan mobilitas mensyaratkan interaksi antar manusia tanpa melibatkan hati. Oleh Ryan Bingham (George Clooney) persoalan efisiensi dan mobilitas ini diibaratkan seperti seberapa besar dan berat tas yang kamu bawa. Lihat saja aksi Ryan Bingham dengan travel bag-nya. Suatu komitmen membutuhkan KESETIAAN yang berlandaskan KEPERCAYAAN. Yang namanya kepercayaan, harus dirajut dari benang-benang KEJUJURAN. Tanpa kejujuran, manusia hanya akan saling menyakiti. Ryan Bingham memilih untuk setia pada institusi bukannya kepada manusia karena dia merasa nyaman dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya serta timbal balik yang sesuai menurutnya.
Up in the Air merupakan salah satu film terbaik yang dirilis Holly sepanjang tahun 2009 kemarin. Naskahnya begitu cerdas dan nyinyir. Barisan cast-nya bermain prima dan saling menguatkan. Jason Reitman seperti biasa, piawai mengatur ritme cerita hingga film dengan banyak muatan ini tidak terasa berat dan membosankan. Waltz udah menonton film ini dua kali dan belum dibuat bosan. Bahkan, saking terpikat dengan cerita yang diadaptasi dari novel karangan Water Kirn ini, Waltz sampai membaca naskahnya. Waltz menangkap aura klasik dalam film ini. Segalanya terasa pas dan bakal masih bisa dinikmati sampai beberapa puluh tahun kedepan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar